Akhirnya melakukan proses menulis untuk kegiatan satu ini
Ketika mendarat di tanah Sumba, tidak membayangkan akan masuk dunia keindahan budaya. Ternyata Sumba terkhusus sumba Barat penuh dengan tradisi luar biasa dan sudah dilihat dari berbagai belahan dunia
(jadi bangga…). Salah satunya Pasola.
Nah dua bulan setelah saya menetap disini, dikabarkan ada Perang Pasola. Hal tersebut membuat adrenalin meningkat, bayangkan ada begitu banyak turis-turis baik lokal dan luar yang berniat datang, apalagi saya sudah menetap disini, sayang jika tidak diikuti.
Sebelum mengikuti kegiatan tersebut coba browsing di internet informasinya, supaya ga bingung-bingung amat ketika menjalaninya dan dapat:
Tradisi Pasola adalah sejenis permainan “perang-perangan” ala Sumba, secara tradisi adat Sumba bagi penganut kepercayaan lokal Marapu disebut Pasola. Pasola adalah permainan “perang-perangan” antardua kelompok “pasukan” berkuda yang berbeda dan saling berhadapan satu sama lainnya dengan saling melempar lembing yang ujungnya tumpul (baca: tidak lancip/runcing!) atau “tombak kayu” di area padang savana. Setiap kelompok terdiri lebih dari antara 100-200 orang pemuda “bersenjatakan” tombak tumpul yang dibuat dari kayu – berdiameter kurang lebih 1,5 cm. Lembing demi lembing dilempar ke arah lawan dengan tujuan agar terkucur darah lawan, pertanda demi kemakmuran tanah. Yang kena lempar tak boleh marah atau dendam. Suasana saling baku lempar lembing dalam Pasola, sambil diiringi pekikan kuda dan sorak-sorai penonton, dan … woow… kegembiraan menggema saat lembing mengenai sasaran di bagian tubuh lawan.
Secara etimologis (asal kata), kata “Pasola” berasal dari kata “sola“ atau “hola“, maknanya sebuah “tombak kayu” atau “lembing“. Setelah mendapat imbuhan “pa” menjadi paduan kata”pasola” atau “pahola“, yang berarti (sejenis) permainan uji ketangkasan dengan cara menggunakan dan melemparkan lembing ke arah depan atau lawan yang saling berhadap-hadapan antar muka.
Hingga sekarang (2011) pelaksanaan tradisi Pasola tetap berlangsung dalam agenda tahunan, dan menjadi festival guna promosi pariwisata, yang oleh Pemerintah Kabupaten setempat, yakni Pemkab Sumba Barat untuk Pasola di Lamboya, Wanukaka, dan Gaura. Sedangkan di Kabupaten Sumba Barat Daya, di kawasan Kodi ada lima tempat: Homba Kalayo, Bondo Kawango, Rara Winyo, Waiha, dan Wainyapu. Bulan sama, antara Februari – Maret.
Kebetulan sayanya mengikuti kegiatan pasola Wanokaka, katanya sih ini pasola yang terbaik. Kegiatan ini cukup menggunggah nyali juga kita mulai tahapannya aja ya:
Diawali dengan doa dari para rato-rato:
ini rato yang tertua…
Dengan doa-doa tersebut diharapkan menghadirkan para leluhur. Tujuannya agar adanya berkat untuk waktu yang akan datang, yahh rentangnya mpe pasola berikutnyalah.

Hingga momen yang tepat dan doa telah dipanjatkan akan diutus dua orang rato yang akan memanggil “Nyale”, cacing laut yang ada hanya ketika pasola hmmm. Nyale ini dimakan loh, dan katanya proteinnya bagus, tapi saya juga belum pernah coba.

Ketika nyale telah didapat nanti para rato tersebut melakukan pengecekkan. Jika nyale tersebut gemuk dan baik maka diperkirakan hasil tanam untuk tahun itu akan seperti itu pula.

Setelah rato melakukan pengecekan saatnya para penonton, turis, dan lainnya dapat menangkap nyale untuk konsumsi pribadi. Terus terang adegan ini cukup menyenangkan. Melihat orang-orang pada geli melihat cacing, saya mah malah asik foto-foto.

Setelah itu adegan selanjutnya gw kurang ngerti juga ya, sepertinya adanya percakapan antar rato yang cukup berat (karena pake bahasa sini dan saya tidak ada penerjemah, alhasil saya juga cuma memfoto). Percakapan itu sepertinya cukup penting, tapi ketika percakapan itu terjadi, pasola pantainya udah dimulai. Jadi kami berlari menuju pantai dan melihat proses pasolanya.

Bersama seorang Pater, yang sangat peduli dengan kebudayaan sini. Saya pengagum berat dia. Dia seorang Sumba Barat Daya yang mendedikasikan hidupnya untuk keberlanjutan kebudayaan Sumba. Sudah pernah menang lomba untuk foto-fotonya. Dan saat momen inilah saya pertama kali bertemu dengan dia.

(dapet fotonya kehalang dengan tongkat pasola, huufttt.. tapi mupeng dengan kameranya)
Hasil akhirnya kami berpetualang di pasola pantai . .

nah ternyata tidak berhenti sampai disitu, pasola ini pun berlanjut ke lapangan tepat di bawah kampung adat utama di wanukaka.

untuk kegiatan di pasola dataran dibuka langsung oleh Bupati Sumba Barat.

hmmm yah baru sejauh inilah cerita dan gambar tentang pasola sumba barat. berhubung kameranya kurang mendukung, dan cuma mode ini yang bisa menangkap kecepatan tinggi dan cahaya yang kurang, jadi bentuk foto-fotonya kayak gini. seorang teman Angel Supit, bilang fotonya serem, ga ada maksud, cuma mode yang mampu. Tahun depan ya pasola berikutnya, kalau ada saya ganti










its meee… hahahahaa